OJK Jamin Intermendiasi Sektor Keuangan Tumbuh Stabil Hingga Oktober

37
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat diskusi tentang stabilitas sektor jasa keuangan (Maya/detiksumsel.com)

Palembang, Cinde Pedia – Ditengah perlambatan pertumbuhan perekonomian global, Intermendiasi sektor keuangan mencatat pembukuan perkembangan yang stabil dengan profil resiko yang terkendali hingga pekan keempat Oktober ini. Hal ini diungkapkan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat diskusi tentang stabilitas sektor jasa keuangan.

Data September menunjukkan CAR perbankan sebesar 23,38 persen, Risk Based Capital (RBC) asuransi jiwa 667,47 persen, RBC asuransi umum 321,4 persen dengan gearing ratio perusahaan pembiayaan 2,72 kali. Risiko kredit dan pembiayaan juga terjaga dengan NPL gross 2,66 persen dan NPL nett 1,15 persen. NPF gross 2,66 persen dan NPF nett 0,55 persen.

Kredit perbankan sampai September mencapai Rp5.524,19 triliun atau tumbuh 7,89 persen (yoy), antara lain ditopang kredit infrastruktur Rp777,89 triliun (16,67 persen/yoy), kredit pariwisata Rp131,56 triliun (7,35 persen/yoy), kredit pengolahan Rp917,46 triliun (5,54 persen/yoy), kredit perikanan kelautan Rp93,22 triliun (0,07 persen/yoy) dan kredit perumahan Rp512,8 triliun (9,99 persen/yoy).

Sementara Dana Pihak Ketiga perbankan mencapai Rp5.891,92 triliun atau tumbuh 7,4 persen (yoy). Penghimpunan dana di Pasar Modal mencapai Rp140,3 triliun dengan jumlah IPO sebanyak 40 perusahaan.

“Dinamika perekonomian global pasti berdampak ke Indonesia termasuk sektor jasa keuangan dan sektor riil. Untuk itu diperlukan sinergi yang kuat dalam membangun sektor prioritas pemerintah. Sektor jasa keuangan juga masih memiliki ruang permodalan untuk mendorong perekonomian nasional,” kata Wimboh.

Menurutnya diperlukan strategi dalam menguatkan stabilitas sektor jasa keuangan di tengah pelemahan ekonomi global antara lain dengan meningkatkan permodalan, likuiditas, dan Cadangan Kerugian Penilaian Nilai (CKPN), kemudian membangun kepercayaan pasar untuk mendorong mesin baru penggerak sektor riil dan mengembangkan sektor berefek bergulir seperti pariwisata, industri ekspor dan subsititusi impor.

“Indonesia memiliki perumbuhan 5% selama 10 tahun ini. Meski di luar global environment (terjadi pelambatan) Indonesia bisa menjaga pertumbuhan di atas 5 %. Indonesia memiliki kemampuan menjaga karena ekonomi cukup besar. Size marketnya mampu menjadi insurance untuk menompang ketidakpastian global environment. Ini merupakan potensi yang besar,” katanya.

Sedangkan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI optimistis pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,1 % tahun ini, dengan nilai tukar rupiah stabil di kisaran Rp14 ribu per dolas AS. Bank Indonesia, OJK dan Kemenkeu akan terus menjaga stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Dikatakan Perry, BI sudah mengeluarkan berbagai bauran kebijakan yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi seperti penurunan suku bunga dari 6% ke 5% serta kebijakan uang muka untuk produk otomotif.

“Likuiditas perbankan lebih dari cukup untuk financing. Makro prudensial tahun lalu sudah dikendorkan, kebijakan uang muka lebih tinggi untuk produk otomotif. Kebijakan moneter, nilai tukar, pendalaman pasar keuangan dengan semua policy ini diharapkan pertumbuhan ekonomi akan terjaga,” katanya. (ds/int)

BAGIKAN