Perekonomian Sumsel Masih Bergantung pada Sektor Primer

194
Suasana dialog Business Challenges 2020 di Beston Hotel (Maya/detiksumsel.com)

Palembang, Cinde Pedia – Sumatera Selatan dinilai harus segera mempercepat hilirisasi komoditas andalan provinsi itu di tengah melemahnya permintaan pasar dunia.

Hal ini diungkapkan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Bernadette Robiani, saat acara Business Challenges 2020 dengan tema menakar prospek komoditas andalan Sumsel di Beston Hotel, Jumat (13/12).

Bernadette mengatakan, saat ini perekonomian Sumatera Selatan masih bergantung pada sektor primer, dimana masih mengekspor kelapa sawit, karet dan batu bara yang belum memiliki nilai tambah.

“Oleh karena itu, kita harus melihat kondisi permintaan pasar yang melemah dan ketidakstabilan harga komoditas andalan itu sebagai peluang untuk mempercepat hilirisasi,” terangnya.

Dia mengatakan, batubara yang masuk dalam sektor pertambangan dan penggalian berkontribusi tinggi terhadap ekonomi Sumsel. Begitu pula karet dan kelapa sawit yang masuk dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.

Ditambahkanya, peluang untuk hilirisasi akan terbuka lebar dengan adanya rencana dimulainya kembali aktivitas pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api Api (KEK TAA).

“KEK TAA akan menciptakan nilai tambah dan multiplier effect bagi perekonomian Sumatra Selatan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Sumsel Yunita Resmi Sari mengatakan perlu adanya perbaikan dari sisi hulu, untuk peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai tambah yang berbasis hilirisasi industri.

Dia mencontohkan, untuk komoditas karet, hilirisasi dapat diwujudkan melalui pembangunan industri ban baru, industri ban vulkanisir dan industri apparel (sarung tangan).

“Namun memang tantangannya ada pada infrastruktur, dimana kapasitas pelabuhan eksisting yang terbatas sehingga berdampak pada handling cost yang tinggi,” ucapnya.

Oleh karena itu, bank sentral menilai, langkah Pemprov Sumsel untuk memulai kembali pengembangan KEK TAA yang dilengkapi pelabuhan laut dalam akan mendukung hilirisasi industri komoditas andalan Sumsel.

Sari mengatakan meski kinerja ekspor dari komoditas andalan diprediksi terbatas akibat kondisi global, namun ekonomi Sumsel diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5,7 persen—6,1 persen.

“Pertumbuhan ini didorong oleh investasi yang mulai tumbuh dan konsumsi rumah tangga yang stabil,” katanya. (ds/int)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.