Pertumbuhan Ekonomi Meningkat, Sumsel Berhasil Cegah Inflasi

160
H Herman Deru saat membuka rapat High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumsel di ruang Rapat Lantai 2 Bank Indonesia Perwakilan Sumsel. (foto-humas pemprov)

Palembang, Cinde Pedia – Saat ini, inflasi Provinsi Sumsel tergolong baik dan terkendali, hingga sampai dengan posisi di bulan Agustus 2019 sebesar 2,52 persen. Angka tersebut lebih rendah dari inflasi porvinsi lain di pulau Sumatera bahkan nasional. Hal tersebut dikatakan Gubernur Sumsel, H Herman Deru saat membuka rapat High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumsel di ruang Rapat Lantai 2 Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, Rabu (11/9/2019) yang juga dihadiri Wakil Gubernur Sumsel Ir H. Mawardi Yahya.

“Saya berharap pertumbuhan ekonomi daerah ini terus meningkat dan berupaya menekan terjadinya inflasi,” harapnya.

Upaya menekan terjadinya inflasi menurutnya, merupakan tanggung jawab daerah dengan kerjasama lembaga terkait. Hal tersebut sejauh ini telah dilakukan di Sumsel yang dibuktikan dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi yang terbaik di Sumatera.

“Untuk kedepan saya ingin lebih baik lagi. Dan rapat ini merupakan salah satu upaya kita dalam mencapai pertumbuhan ekonomi terbaik dan menekan terjadinya inflasi,” tambahnya.

Baca Juga  Atasi Banjir Pemkab OKUT Siapkan Langkah Penyelamatan Warga

Sementara Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, Yunita Resmi Sari memaparkan saat ini Provinsi Sumsel dengan inflasi terkendali dengan sebesar 2,25 persen atau jauh dari Inflasi nasional ini sebesar 3,49 persen.

“Hasil ini berkat dukungan dan kokompakan serta kesolidnya TPID yang di pimpin langsung oleh Gubernur Herman Deru dan Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya,” ucap Yunita Resmi Sari.

Lanjut dia, jika dibandingkan dengan Provinsi-provinsi lain di Sumatera, posisi Sumsel adalah yang terendah kedua dibawah Aceh yang ada pada posisi 2,08 persen kemudian Sumsel 2,52 persen. Sedangkan provinsi lainya berada di atas 3 persen seperti Provinsi Lampung, Babel, Jambi, Bengkulu, Sumbar dan bahkan Sumut.

“Jadi sumut ini yang tertinggi di Sumatera dengan inflasi 6,47 persen,” ujarnya.

Baca Juga  Atasi Banjir Pemkab OKUT Siapkan Langkah Penyelamatan Warga

Pemicu inflasi di Sumsel dijelaskannya, dikarenakan lima komoditas yakni karena melambungnya harga cabe merah, emas perhiasan, sekolah dasar, cabe rawit dan sekolah masuk SMP. Sementara yang mengalami penurunan harga yakni angkutan udara, daging ayam ras, bawang merah, bayam dan tomat sayur.

“Kami melihat kedepan upaya pengendalian inflasi daerah perlu di fokuskan ke komoditas seperti cabe, telur ayam, daging ayam ras, bawang merah, beras serta angkutan udara,” paparnya

Sementara itu Wagub Mawardi Yahya menyebut Provinsi Sumsel dengan inflasi yang terjaga dan tetap berharap inflasi Sumsel tetap terjaga di posisi paling terendah.

“Terutama tanaman cabe, saya mengharapkan kepada Dinas Pertanian Sumsel supaya membina kelompok tani agar lebih fokus dalam hal menjaga inflasi di Sumsel,” tutupnya. (ds/int)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.