Tahun 2020, Pertumbuhan Ekonomi Diperkirakan Masih Lemah

74
Gubernur Sumsel Herman Deru, Kepala Bank Indonesia Sumsel Yunita Resmi Sari, ketua OJK saat penganugrahan Penghargaan BI. (Maya/detiksunmsel.com)

Palembang, Cinde Pedia – Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi peluang bagi Indonesia, termasuk Sumsel untuk meraih kesempatan untuk pertumbuhan ekonomi.

Kepala Bank Indonesia Sumsel Yunita Resmi Sari menjelaskan, sampai 2020 mendatang, Bank Indonesia menilai ekonomi global akan tetap mengalami pelemahan. Untuk itu diperlukan sinergitas seluruh pihak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumsel.

“Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 yang mengalami perlambatan diperkirakan pada 2020 pun akan belum pulih,” jelasnya, Kamis (05/12).

Perang dagang yang terjadi berdampak buruk di berbagai negara termasuk Indonesia. Bahkan ekonomi global akibat perang dagang ini hanya tumbuh 3 persen, akibat dampak dari perang dagang yang terjadi, menekan volume perdagangan dan kondusifitas investasi.

Ia menambahkan, kebijakan moneter belum tentu berdampak efektif terhadap ekonomi makro. “Penurunan suku bunga the Fed yang pada 2019 ini saja sudah 3 kali namun tidak berdampak signifikan bahkan tidak cukup menyelamatkan Indonesia,” katanya.

Baca Juga  Terbuka Untuk Umum dan Gratis, FESyar Bakal Jadi Potensi Ekonomi Syariah 

Ditambahkanya, perlu adanya sinergi ekonomi baik stimulus fiskal  dan investasi  untuk mendorong sektor rill, nilai tukar. Juga, injeksi kebijakan agar investor masuk dan menjadikan Indonesia dan Sumsel  market meski hal itu tidak cukup karena yang paling penting kredibilitas dalam setiap kebijakan.

Tidak hanya itu, lanjutnya pada 2020 mendatang digitalisasi ekonomi keuangan pun akan berkembang pesat sehingga menimbulkan fintech. Dampaknya menimbulkan persaingan usaha tidak sehat. Untuk itu diperlukan inovasi dan integritas ekonomi nasional. Apalagi, tanpa disadari 50 persennya milenial dan ini merubah pola bisnis dan skill tenaga kerja.

“Kita perlu siniegi dan kerjasama antara pemerintah, bank Indonesia, OJK dan kementerian lembaga dan Pemda, agar inflasi terjaga, nilai tukar rupiah stabil, defisit neraca perdagangan, stabilitas sistem keuangan ditingkatkan melalui sumber ekonomi dalam negeri terutama di bidang manufaktur,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, DIPA  yang berputar di Sumsel mencapai Rp  45 triliun. Dana tersebut belum termasuk APBD kabupaten kota dan provinsi. Hanya saja, pembentukan anggaran tersebut satu tahun sebelumnya. Kalau anggaran 2020 maka disusun 2019 ini.

Baca Juga  Dongkrak Motivasi Responden, BI Datangkan Merry Riana

Diakuinya dalam menentukan Dipa memang perlu perhatian ekstra, pemerintah daerah tidak bisa melawan arus, sebab jika dipertengahan jalan ada hal yang perlu dilakukan tapi terkendala aturan sehingga Pemerintah daetan tidak bisa melakukan invoasi dan improvisasi.

“Kami tidak ada kuasa untuk inovasi pada anggaran di tahun berjalan dan tentu kami juga harus menghormati visi dan misi bupati dan walikota untuk mengembangkan dan membangun daerah nya,“ ucapnya.

Untuk itu, tambahnya duduk bersama dan sinergi program menjadi penting mencapai kesejahteraan masyarakat. Apalagi ditengah guncangan ekonomi global saat ini.

“Disini tidak hanya konektivitas infrastruktur yang penting tetapi juga persepsi agar pembangunan berjalan seiring,” tukasnya. (ds/int)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.